Selasa, 11 April 2017

" lo kurus banget sih "
" lo gendutan banget ih "

Kalimat seperti itu tentunya sudah nggak asing lagi kita dengar. Gue terlalu terbiasa mendengar itu saat bertemu dengan teman-teman CEWEK pastinya. Tidak perlu bertemu, cukup dengan memposting foto kita di social media, tidak sulit menemukan komentar-komentar seperti itu di kolom komentar. Tidak jarang juga kita menemukan caption bertuliskan " iya gendutan banget nih " atau " iya gue tambah kurus banget nih " , seakan meyakinkan para calon komentator mengurungkan niatnya menyebut diri kita gemuk atau kurus dengan alasan kita sendiri sudah sangat tahu akan hal tersebut. 

awalnya gue bertanya-tanya, kenapa ya... ini semua tuh seakan udah jadi habit semua cewek. Padahal masing-masing dari mereka-pun tahu bahwa betapa tidak menyenangkannya mendengar ungkapan tersebut. Gue pernah mengutarakan ini ke orang tua gue, dan keduanya sepakat bahwa hal tersebut adalah pengingat. Pengingat bagi mereka yang gemuk untuk tidak makan terlalu banyak dan pengingat bagi si kurus untuk makan lebih banyak. Gue saat itu nggak setuju. Karena pada kenyataanya, memangnya mereka yang kurus sudah pasti tidak makan banyak? apakah mereka yang gemuk selalu makan terlalu banyak? gue ragu.

Gue punya seorang teman, okay kali ini aja, katakanlah dia gemuk... lain kali jangan panggil dia gemuk lagi. Gue ingat, teman gue ini pernah mengirimi gue foto dirinya dengan pakaian yang akan dia pakai di hari itu. Foto yang dia kirimkan adalah foto dirinya menggunakan scarf dan tanpa menggunakan scarf. Sebenarnya bukan scarf sih... lebih serupa keffiyeh yang dililit di leher. Saat itu dia bilang " gue pengen pake scarf ini, tapi nyokap bilang gue gendut pake ini ". Gue lupa persisnya dia ngomong apa, kurang lebih gitu deh. Gue akhirnya sadar, itu hanya satu dari sekian perbincangan yang pernah gue denger dari teman gue ini, soal orang-orang di lingkungannya yang menyebut dia gemuk, melarang ini itu karena alasan gemuk atau meminta dia melakukan diet. 

Pada awalnya gue menganggap itu hal yang normal. Berpikiran positif aja, karena toh menurunkan berat badan punya banyak dampak positif bagi seseorang. Gue tahu, hal seperti ini bukan hanya terjadi pada teman gue. Tapi kemudian gue tidak lagi merasa ungkapan-ungkapan tersebut positif. Semenjak kalimat yang melibatkan keadaan fisik seseorang itu terlalu mudah dikatakan oleh orang-orang. Semenjak kalimat-kalimat itu bermakna lebih mengerikan daripada sekedar pengingat bagi pendengarnya. Tidak jarang gue mendengar kalimat ' lo gendutan banget ih ' menjadi kalimat pengganti sapaan 'halo'. Gue paham bahwa ungkapan-ungkapan tersebut mungkin tidak pernah diniatkan untuk menyakiti orang lain. Gue paham, bahwa sebenarnya hal tersebut terjadi karena orang-orang sudah dipengaruhi oleh standar kecantikan yang tidak henti-hentinya disiarkan di media. Tapi tahu nggak sih kalau ungkapan sesederhana itu dampaknya nggak sederhana?

Self objectification itu adalah proses kita mengevaluasi diri berdasarkan gimana kita dilihat sama orang lain (cmiiw). Nah, Kebayang nggak sih kalau kemudian kita dikasih tahu sama orang lain mengenai bagaimana mereka melihat kita dan itu berdasarkan paham mengenai standar kecantikan yang mereka punya? ditambah lagi dengan kebiasaan kita bercermin, yang menurut gue ya disitulah proses self objectification itu terjadi. lo mengevaluasi diri lo berdasarkan gimana lo dilihat sama orang lain. Kebiasaan bercermin untuk melihat penampilan luar kita juga bisa bikin kita terbiasa untuk mengabaikan apa yang sebenarnya kita rasakan. Akhirnya beberapa orang lebih fokus tentang gimana mereka bisa memenuhi standar kecantikan yang dianut sama orang banyak, dan mulai lupa sama dirinya sendiri. 


" when we look in the mirror, we see ourselves as an image that needs fixing, rather than a real person suffering from self-criticism.... " 

gue pernah baca kutipan ini di salah satu artikel yang (oh-bodohnya-gue) lupa nggak gue save link-nya. But... this is sooo true, right? 

Banyak juga sih perempuan-perempuan yang nggak terpengaruhi sama standar kecantikan, apa kata orang, dan lebih milih jadi Kyle Jannah daripada Kyle Jenner. Tapi banyak juga yang terpengaruh. Banyak cewek yang akhirnya nggak makan makanan yang mereka suka karena takut dengar apa kata orang. Banyak cewek yang nggak pakai baju yang mereka pakai karena mereka udah kehilangan rasa percaya diri mereka saking takutnya dengar apa kata orang. Banyak cewek yang nggak jadi diri mereka sendiri, karena takut dinilai orang lain. Banyak cewek yang menghabiskan 12 jam setiap hari dari hidupnya untuk mengeluhkan tubuhnya sendiri. Begitu banyak yang bisa disyukuri akan kalah, oleh kekurangan-kekurangan diri. Gue melihat sendiri, betapa hal itu sangat tidak membahagiakannya bagi perempuan-perempuan ini. Termasuk gue. ( Jadi sebenarnya tulisan ini adalah curcol belaka. hahaha )

Gue pribadi masih angin-anginan... kadang gue-pun menerapkan standar kecantikan itu ke diri gue sendiri, kadang kalau udah muak ya gue so-so-an balik ke diri gue lagi. Ceritanya dalam rangka menerima diri apa adanya. Sebenarnya menurut gue bukanlah masalah kalau kita menerapkan standar kecantikan itu ke diri kita sendiri, paling kalau kita nggak sesuai dengan ke-ideal-an yang kita anut itu, ya kita yang sengsara. Gue tahu adalah hal yang tidak mungkin berharap standar kecantikan yang sudah berlaku ini untuk bisa hilang. Tapi menurut gue, akan jadi salah kalau kita memberlakukan hal tersebut ke orang lain juga. Bukan hal yang mustahil menjaga lisan buat nggak memberikan penilaian terhadap penampilan orang lain. Gue tahu itu hal sederhana, yang sebenarnya, bisa mengurangi dampak orang lain buat hidup nggak bahagia. 




Minggu, 22 Januari 2017

I QUIT

Selamat malam! hohoho... story time.

Entah kenapa gue belakangan sangat menikmati menulis dan isinya sebenernya literally random with no interesting picture didalamnya. Blog gue sangat membosankan.... tapi ya sebenarnya dari awal gue nggak pernah expect tulisan gue akan dibaca orang. Pada dasarnya gue memang sangat ekstrovert, dan ketika gue pengen cerita sesuatu, itu akan sangat susah banget ditahan. Ditambah lag, gue tinggal sendirian which is keinginan untuk bercerita gue tidak selalu difasilitasi oleh pendengar. Thats why gue selalu chat banyak orang di jam yang sama untuk menceritakan hal yang sama. Kebayang nggak sih? gue juga sangat terbiasa membicarakannya secara detail. Gue cukup heran dengan kelakuan gue, i mean... gue bisa membicarakan hal yang sangat personal bahkan sama customer yang nggak gue kenal sebelumnya. Tapi entah kenapa, ketika gue share sesuatu yang gue rasakan, itu bikin gue merasa lega aja gitu. 
Thats why gue mulai menulis blog lagi. 

Tapi ternyata, saat gue post blog untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun punya blog ini, gue dapet beberapa private message yang menceritakan bahwa mereka baca blog gue. Gue agak bingung juga orang-orang mau meluangkan waktunya buat baca iniloh ? paragraf-paragraf panjang isinya curhatan orang yang bahkan mereka mungkin gak kenal dekat. But still, i wanna say thankyou and sooo happy with that. 

Gue akan kembali membicarakan soal passion, setelah sekian lama passion selalu menjadi topik pembicaraan yang mampu membuat gue terjaga sampai pagi. Gue cukup bersyukur gue termasuk orang yang dari awal sudah sangat paham passion-nya dimana. Karena gue masih bertemu banyak orang yang diusia segini masih belum tahu tujuannya apa, keinginannya apa dan maunya gimana. Dari situ gue juga sadar bahwa betapa belum menemukan passion di usia segini juga cukup bikin frustasi, mereka selalu merasa waktunya terbuang dan gak pernah merasa benar-benar puas atas apa yang dia lakukan. Saat gue SMA, karena gue sudah mengetahui passion gue dimana, gue merasa bahwa gue hanya perlu melakukan step by step seperti yang orang lain lakukan untuk bisa mendapatkan apa yang gue inginkan. Mimpi-mimpi besar gue. Gue berusaha mengikuti jalan itu, bahkan menyusun peta gue sendiri.

Saat gue kuliah, gue disadarkan bahwa segala sesuata tidak selalu berjalan seperti peta yang sudah gue buat. Saat itu gue jatuh bangun dalan artian sebenarnya. Gue akhirnya tahu jatuh bangun yang sebenarnya, bukan hanya jatuh bangun superti di lagu dangdut. Saat itu, gue banyak belajar, gue juga menemukan diri gue yang lain.... gue mulai mengenal diri gue sendiri lebih yang gue pernah pahami. 
Gue sadar bahwa gue bukan hanya sekedar melakukan step by step dari kehidupan gue. Gue bukan hanya sekedar berusaha kemudian memetik hasil, tapi gue akhirnya tahu bahwa gue perlu banyak jatuh untuk kemudian belajar bahwa bangun itu sulit tapi bisa dilakukan.

Saat kuliah inilah, akhirnya gue sadar... sejauh-jauhnya gue melangkah, gue tetap menuju satu arah... menuju tujuan gue, menuju mimpi gue, passion gue. Sejauh-jauhnya gue melangkah, gue selalu menatap passion gue, dari kejauhan.
Gue hanya perlu menempuh perjalanan lebih jauh dari seharusnya. 

Saat kuliah gue selesai, Tanpa sempat gue menyadari, gue tiba-tiba kerja. Bahkan bekerja di tempat yang membuat gue semakin dekat dengam mimpi gue, di tempat yang bukan hanya membiarkan gue untuk sekedar bertegur sapa dengan passion gue, lebih dari itu. Saat itu gue berpikir.... Selama ini gue selalu diberikan jalan, sesulit apapun, selalu ada jalan menuju tujuan itu.

Lalu sekarang apalagi masalahnya?

Disaat semuanya terasa sempurna, dan berada di jalan yang tepat....


gue tetiba menemukan hal-hal yang ternyata merupakan masalah terberat buat gue. Sekarang gue tahu bahwa dalam proses melakukan step-by-step-nya, gue bukan lagi sekedar belajar bangun ketika jatuh atau terus berusaha untuk memetik hasilnya. Semakin gue terpapar lebih jelas seperti apa hal-hal yang perlu gue lalui, semakin gue mulai merasa bahwa kini value sangatlah menjadi pertimbangan. Gue mulai kesulitan ketika di berikan fakta bahwa dalam mencapai sesuatu ada banyak ketidaksamaan dalam value yang perlu dihadapi untuk bisa mencapainya. Ternyata itu lebih menyita pikiran dari yang pernah gue bayangkan. Gue sadar untuk bisa menjadi apa yang kita inginkan, diperlukan ambisi dan kerja keras. Itu adalah kalimat paling klasik yang mungkin terbiasa kita dengar ketika ngomongin soal cita-cita. gue juga sampai bosen dengernya. Tapi untuk pertama kalinya gue mulai memikirkan maksud dari kalimat itu. 

ambisi? mendengar kata ambisi gue terus-terusan bertanya, apa itu ambisi?

kesuksesan? kesuksesan seperti apa yang gue mau?

kerja keras? wait, kerja keras yang dimaksud itu yang seperti apa ? 

ketika gue mulai menemukan definisi yang tepat di kepala gue, gue akhirnya tau bahwa dunia ini punya definisi yang berbeda-beda tentang apa itu ambisi, kesuksesan dan kerja keras. Gue selalu merasa bahwa semuanya hitam putih, tapi ternyata..... dunia ini punya warna abu-abu yang tidak pernah gue tahu. Sejauh ini, warna abu-abu itu adalah bagian tersulit yang bisa gue terima. 

" naif sekali kamu nak "

Mungkin dunia ini berusaha menyadarkan gue, bahwa untuk bisa bertahan hidup gue perlu menjadi abu-abu.

" dunia ini keras, nak "

Beberapa kali gue tenggelam, dalam keinginan untuk menjadi putih.
Beberapa kali gue tenggelam, untuk menjadi hitam.
Beberapa kali bahkan gue tenggelam, untuk menjadi abu-abu....

Sampai gue pada tahap benar-benar memahami, ini hanyalah soal perbedaan definisi. So...

" i quit "