Selasa, 13 Maret 2018

Jarak sedekat ini


Image Source : Pinterest.com 
Pada jarak sedekat ini, apakah kamu merasakannya?
Jarak yang mungkin tak pernah ada
Selalu diciptakan, namun gagal dilaksanakan
Aku bisa menyentuhmu tanpa perlu cara
Kamu selalu bisa membacaku, tanpa perlu usaha

Dunia seperti berencana
Tanpa melibatkan pendapat kita didalamnya
karena dunia tahu,
mungkin kamupun tahu
Bahwa kehidupan selalu menentukan jalannya

Pada jarak sedekat ini, apakah kamu merasakannya?
ada tembok yang berusaha kita buat bersama
tanpa tahu artinya bekerja sama
untuk berusaha menjelaskan apa arti kata sementara



Pada jarak sedekat ini .

Kamis, 08 Maret 2018

catatanku, kala itu

Source : Pinterest.com

Ada hal yang tak biasa, 

diantara kejadian yang biasa-biasa

Ada mata yang nampaknya memiliki makna yang berbeda

Mata yang terus membuatmu bertanya 

Apakah ini sesuatu yang istimewa? 

Ada sesuatu disana, 

Tentang definisi dari kata percaya 

Bagaimana sepasang mata bisa,

membuatmu meyakini bahwa mungkin... ada cerita

lebih dari sekedar bertatap muka 

meski mungkin cerita di hati saja 

Senin, 05 Maret 2018

05032018

" what it feels like when you have a different value with the most important person in your life? "
source : pinterest.com

it feels like hell, to me. 

Semakin hari, definisi experience punya makna yang lebih besar dan lebih besar lagi buat gue. Betapa pengalaman yang terjadi, setiap detiknya mampu merubah segalanya. Cara kita memandang, cara kita menilai, dan cara kita menjalani kehidupan. Perubahan itu nggak pernah kita sadari, karena perubahan itu terus terjadi. 

Webers Law bilang, kalau perubahan itu baru terasa, tergantung dari seberapa besar intensitas stimulusnya. Selama ini gue mencontohkannya dalam suatu produk, pokoknya yang berkaitan sama materi kuliah. Tapi gue sadar.... mungkin ini yang namanya weber's law dalam kehidupan interpersonal. Kita baru sadar ada perubahan value, ketika perubahannya cukup besar, cukup signifikan dari value kita sebelumnya. Kita belum menyadari bahwa ada perubahan yang terjadi, ketika perubahan tersebut masih berupa perubahan kecil. Kemudian kita sampai di tempat kita berdiri, dimana kita sudah berjalan terlalu jauh dari value kita sebelumnya. Value yang mungkin kita anut bersama dengan orang lain, orang lain yang mungkin diantaranya adalah significant others.

Semuanya yang semula sama, menjadi berbeda. Semua terasa tidak pada tempatnya, tidak menyamankan dan tidak menyenangkan. Kita akan dihadapkan pada situasi menyakiti orang lain tanpa ingin menyakiti, menjadi tersakiti meskipun tahu orang lain tak berniat menyakiti. Kemudian bimbang untuk memilih bagaimana caranya bahagia tanpa perlu menyakiti, atau bagaimana melihat orang lain bahagia tanpa perlu merasa sakit. 

Rumit, bukan?

Kita terus memikirkan satu jawaban, yang tak pernah kita tahu pasti kebenarannya.
Berusaha mencari jawaban benar, yang sesungguhnya mungkin hanya persoalan sudut pandang.

Diantara semua kesulitan, gue akhirnya memilih untuk jujur. Karena jujur adalah kunci dari segalanya, katanya. Jujur untuk menyerah terhadap perbedaan. Bukan untuk membenci, tapi untuk menghargai perbedaan dan membiarkan perbedaan itu tumbuh ditempat seharusnya perbedaan itu berada. Juga sebagai salah satu cara, mencintai diri sendiri. 

Mencintai diri sendiri sesungguhnya memang sesulit ini. 

Ketika kita memilih diri sendiri, kemungkinan kita akan menyakiti orang lain, tanpa berniat menyakiti. Karena gue sadar, seberapapun berbedanya sebuah value, setiap orang tidak berhak disalahkan atas perbedaan. Kita hanya berbeda, nyatanya ini bukan soal benar dan salah. Menghargai perbedaan juga sesulit ini, tapi ketika kita bisa berusaha memahami, ini akan lebih mudah dilewati. 

Atas pilihan yang telah diputuskan, mungkin akan banyak orang yang tidak mengerti. Tapi bukankah pro dan kontra itu manusiawi? lagi-lagi kita hanya perlu mengerti, tanpa menuntut untuk dimengerti. Terdengar naif sekali ya, tapi seperti itulah hidup harus berjalan, kan? Gue kemudian belajar aktifitas baru, aktifitas "berhenti-untuk-memberikan-penjelasan". Gue tak perlu alasan untuk mencintai diri sendiri, menghargai sebuah perbedaan kemudian pergi. Pilihan yang dibuat akan membuat kita merasa kosong, ada yang hilang. Tapi bukankah kehilangan hanyalah bagian dari bagaimana sebuah kehidupan berlangsung? 

Gue kemudian bercermin, melihat betapa tidak sempurnanya diri gue, atas keputusan yang gue ambil, atas rumitnya kehidupan yang sedang dilalui. Tapi pada detik itu juga gue sadar, bahwa itulah yang membuat semuanya indah. Itu adalah kali pertama, gue kembali menyadari bahwa keindahan itu sebenarnya selalu bisa gue interpretasi, dari apapun yang ada didepan mata gue. Semuanya dibawah kontrol gue sendiri. Gue tidak perlu berusaha membahagiakan orang lain, karena sesungguhnya kebahagiaan dan keindahan itu kita sendiri yang membuatnya. Gue memaafkan diri gue, atas perubahan yang terjadi. Gue juga memaafkan orang lain, atas ketidak siapan mereka untuk berubah bersama gue. Semua rencana, semua yang kita mau, nyatanya tidak selalu yang kita butuhkan dan selalu akan terjadi. Kita hanya perlu berdamai, kalau kehidupan memilih jalannya sendiri.





Kamis, 28 Desember 2017

jika ini adalah sebuah cerita romantis



jika ini adalah sebuah cerita romantis, cinta yang belum terjawab.... 
seharusnya dilihat dari kejauhan. 
Agar terlihat sederhana, manis dan sedikit pahit. 

Tapi bagaimana jika aku, tidak pandai dalam hal itu? 

aku tak tahu indahnya memandang dari kejauhan. kejauhan, membuatku gila. dadaku sesak tanpa udara. 
Aku tak tahu bagaimana membuat cerita menjadi romantis.Memadukan rasa manis dan pahit menjadi lebih sederhana

pahit dan manisku sedikit berbeda, pahit dan manisku menjadi adiksi.


aku butuh kamu tahu, seperti apa rasa itu. 
Rasa yang susah payah kurangkai dalam kata, 
yang tak pernah sesempurna makna yang ingin kusampaikan. 

Rabu, 06 September 2017

Pain .

Bisakah kita duduk sebentar?
Oh tidak, aku tahu berbicara denganku tak akan pernah sebentar.
Tapi bisakah...?

Bisakah kita berhenti, untuk berbicara mengenai sebab dan akibat?
Kita menghabiskan separuh hidup untuk membicarakan itu
Kita membiarkan abu menyelimuti pikiran kita

Apakah kamu tidak tertarik dengan sesuatu yang baru?
Yang akan mengisi hatimu dengan secangkir teh hangat
Yang akan mengisi kepalamu dengan langit biru

Aku ingin berbicara, mengenai dunia yang lebih luas dari telapak tanganmu
Aku ingin berbincang, tentang buku yang halamannya tak mampu kuhitung

Oh tidak, belum sampai sana.
Kali ini bisakah kita berbicara hal yang lebih sederhana?
dengan cara yang berbeda.
Aku hanya akan berbicara tentang luka.

Sampai kapan kita akan hidup dengan cara ini ?
Kita berusaha menyembuhkan luka hati dengan melukai orang lain.
Atau berusaha menyembuhkan luka orang lain dengan melukai diri sendiri.

Selasa, 11 April 2017

" lo kurus banget sih "
" lo gendutan banget ih "

Kalimat seperti itu tentunya sudah nggak asing lagi kita dengar. Gue terlalu terbiasa mendengar itu saat bertemu dengan teman-teman CEWEK pastinya. Tidak perlu bertemu, cukup dengan memposting foto kita di social media, tidak sulit menemukan komentar-komentar seperti itu di kolom komentar. Tidak jarang juga kita menemukan caption bertuliskan " iya gendutan banget nih " atau " iya gue tambah kurus banget nih " , seakan meyakinkan para calon komentator mengurungkan niatnya menyebut diri kita gemuk atau kurus dengan alasan kita sendiri sudah sangat tahu akan hal tersebut. 

awalnya gue bertanya-tanya, kenapa ya... ini semua tuh seakan udah jadi habit semua cewek. Padahal masing-masing dari mereka-pun tahu bahwa betapa tidak menyenangkannya mendengar ungkapan tersebut. Gue pernah mengutarakan ini ke orang tua gue, dan keduanya sepakat bahwa hal tersebut adalah pengingat. Pengingat bagi mereka yang gemuk untuk tidak makan terlalu banyak dan pengingat bagi si kurus untuk makan lebih banyak. Gue saat itu nggak setuju. Karena pada kenyataanya, memangnya mereka yang kurus sudah pasti tidak makan banyak? apakah mereka yang gemuk selalu makan terlalu banyak? gue ragu.

Gue punya seorang teman, okay kali ini aja, katakanlah dia gemuk... lain kali jangan panggil dia gemuk lagi. Gue ingat, teman gue ini pernah mengirimi gue foto dirinya dengan pakaian yang akan dia pakai di hari itu. Foto yang dia kirimkan adalah foto dirinya menggunakan scarf dan tanpa menggunakan scarf. Sebenarnya bukan scarf sih... lebih serupa keffiyeh yang dililit di leher. Saat itu dia bilang " gue pengen pake scarf ini, tapi nyokap bilang gue gendut pake ini ". Gue lupa persisnya dia ngomong apa, kurang lebih gitu deh. Gue akhirnya sadar, itu hanya satu dari sekian perbincangan yang pernah gue denger dari teman gue ini, soal orang-orang di lingkungannya yang menyebut dia gemuk, melarang ini itu karena alasan gemuk atau meminta dia melakukan diet. 

Pada awalnya gue menganggap itu hal yang normal. Berpikiran positif aja, karena toh menurunkan berat badan punya banyak dampak positif bagi seseorang. Gue tahu, hal seperti ini bukan hanya terjadi pada teman gue. Tapi kemudian gue tidak lagi merasa ungkapan-ungkapan tersebut positif. Semenjak kalimat yang melibatkan keadaan fisik seseorang itu terlalu mudah dikatakan oleh orang-orang. Semenjak kalimat-kalimat itu bermakna lebih mengerikan daripada sekedar pengingat bagi pendengarnya. Tidak jarang gue mendengar kalimat ' lo gendutan banget ih ' menjadi kalimat pengganti sapaan 'halo'. Gue paham bahwa ungkapan-ungkapan tersebut mungkin tidak pernah diniatkan untuk menyakiti orang lain. Gue paham, bahwa sebenarnya hal tersebut terjadi karena orang-orang sudah dipengaruhi oleh standar kecantikan yang tidak henti-hentinya disiarkan di media. Tapi tahu nggak sih kalau ungkapan sesederhana itu dampaknya nggak sederhana?

Self objectification itu adalah proses kita mengevaluasi diri berdasarkan gimana kita dilihat sama orang lain (cmiiw). Nah, Kebayang nggak sih kalau kemudian kita dikasih tahu sama orang lain mengenai bagaimana mereka melihat kita dan itu berdasarkan paham mengenai standar kecantikan yang mereka punya? ditambah lagi dengan kebiasaan kita bercermin, yang menurut gue ya disitulah proses self objectification itu terjadi. lo mengevaluasi diri lo berdasarkan gimana lo dilihat sama orang lain. Kebiasaan bercermin untuk melihat penampilan luar kita juga bisa bikin kita terbiasa untuk mengabaikan apa yang sebenarnya kita rasakan. Akhirnya beberapa orang lebih fokus tentang gimana mereka bisa memenuhi standar kecantikan yang dianut sama orang banyak, dan mulai lupa sama dirinya sendiri. 


" when we look in the mirror, we see ourselves as an image that needs fixing, rather than a real person suffering from self-criticism.... " 

gue pernah baca kutipan ini di salah satu artikel yang (oh-bodohnya-gue) lupa nggak gue save link-nya. But... this is sooo true, right? 

Banyak juga sih perempuan-perempuan yang nggak terpengaruhi sama standar kecantikan, apa kata orang, dan lebih milih jadi Kyle Jannah daripada Kyle Jenner. Tapi banyak juga yang terpengaruh. Banyak cewek yang akhirnya nggak makan makanan yang mereka suka karena takut dengar apa kata orang. Banyak cewek yang nggak pakai baju yang mereka pakai karena mereka udah kehilangan rasa percaya diri mereka saking takutnya dengar apa kata orang. Banyak cewek yang nggak jadi diri mereka sendiri, karena takut dinilai orang lain. Banyak cewek yang menghabiskan 12 jam setiap hari dari hidupnya untuk mengeluhkan tubuhnya sendiri. Begitu banyak yang bisa disyukuri akan kalah, oleh kekurangan-kekurangan diri. Gue melihat sendiri, betapa hal itu sangat tidak membahagiakannya bagi perempuan-perempuan ini. Termasuk gue. ( Jadi sebenarnya tulisan ini adalah curcol belaka. hahaha )

Gue pribadi masih angin-anginan... kadang gue-pun menerapkan standar kecantikan itu ke diri gue sendiri, kadang kalau udah muak ya gue so-so-an balik ke diri gue lagi. Ceritanya dalam rangka menerima diri apa adanya. Sebenarnya menurut gue bukanlah masalah kalau kita menerapkan standar kecantikan itu ke diri kita sendiri, paling kalau kita nggak sesuai dengan ke-ideal-an yang kita anut itu, ya kita yang sengsara. Gue tahu adalah hal yang tidak mungkin berharap standar kecantikan yang sudah berlaku ini untuk bisa hilang. Tapi menurut gue, akan jadi salah kalau kita memberlakukan hal tersebut ke orang lain juga. Bukan hal yang mustahil menjaga lisan buat nggak memberikan penilaian terhadap penampilan orang lain. Gue tahu itu hal sederhana, yang sebenarnya, bisa mengurangi dampak orang lain buat hidup nggak bahagia. 




Minggu, 22 Januari 2017

I QUIT

Selamat malam! hohoho... story time.

Entah kenapa gue belakangan sangat menikmati menulis dan isinya sebenernya literally random with no interesting picture didalamnya. Blog gue sangat membosankan.... tapi ya sebenarnya dari awal gue nggak pernah expect tulisan gue akan dibaca orang. Pada dasarnya gue memang sangat ekstrovert, dan ketika gue pengen cerita sesuatu, itu akan sangat susah banget ditahan. Ditambah lag, gue tinggal sendirian which is keinginan untuk bercerita gue tidak selalu difasilitasi oleh pendengar. Thats why gue selalu chat banyak orang di jam yang sama untuk menceritakan hal yang sama. Kebayang nggak sih? gue juga sangat terbiasa membicarakannya secara detail. Gue cukup heran dengan kelakuan gue, i mean... gue bisa membicarakan hal yang sangat personal bahkan sama customer yang nggak gue kenal sebelumnya. Tapi entah kenapa, ketika gue share sesuatu yang gue rasakan, itu bikin gue merasa lega aja gitu. 
Thats why gue mulai menulis blog lagi. 

Tapi ternyata, saat gue post blog untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun punya blog ini, gue dapet beberapa private message yang menceritakan bahwa mereka baca blog gue. Gue agak bingung juga orang-orang mau meluangkan waktunya buat baca iniloh ? paragraf-paragraf panjang isinya curhatan orang yang bahkan mereka mungkin gak kenal dekat. But still, i wanna say thankyou and sooo happy with that. 

Gue akan kembali membicarakan soal passion, setelah sekian lama passion selalu menjadi topik pembicaraan yang mampu membuat gue terjaga sampai pagi. Gue cukup bersyukur gue termasuk orang yang dari awal sudah sangat paham passion-nya dimana. Karena gue masih bertemu banyak orang yang diusia segini masih belum tahu tujuannya apa, keinginannya apa dan maunya gimana. Dari situ gue juga sadar bahwa betapa belum menemukan passion di usia segini juga cukup bikin frustasi, mereka selalu merasa waktunya terbuang dan gak pernah merasa benar-benar puas atas apa yang dia lakukan. Saat gue SMA, karena gue sudah mengetahui passion gue dimana, gue merasa bahwa gue hanya perlu melakukan step by step seperti yang orang lain lakukan untuk bisa mendapatkan apa yang gue inginkan. Mimpi-mimpi besar gue. Gue berusaha mengikuti jalan itu, bahkan menyusun peta gue sendiri.

Saat gue kuliah, gue disadarkan bahwa segala sesuata tidak selalu berjalan seperti peta yang sudah gue buat. Saat itu gue jatuh bangun dalan artian sebenarnya. Gue akhirnya tahu jatuh bangun yang sebenarnya, bukan hanya jatuh bangun superti di lagu dangdut. Saat itu, gue banyak belajar, gue juga menemukan diri gue yang lain.... gue mulai mengenal diri gue sendiri lebih yang gue pernah pahami. 
Gue sadar bahwa gue bukan hanya sekedar melakukan step by step dari kehidupan gue. Gue bukan hanya sekedar berusaha kemudian memetik hasil, tapi gue akhirnya tahu bahwa gue perlu banyak jatuh untuk kemudian belajar bahwa bangun itu sulit tapi bisa dilakukan.

Saat kuliah inilah, akhirnya gue sadar... sejauh-jauhnya gue melangkah, gue tetap menuju satu arah... menuju tujuan gue, menuju mimpi gue, passion gue. Sejauh-jauhnya gue melangkah, gue selalu menatap passion gue, dari kejauhan.
Gue hanya perlu menempuh perjalanan lebih jauh dari seharusnya. 

Saat kuliah gue selesai, Tanpa sempat gue menyadari, gue tiba-tiba kerja. Bahkan bekerja di tempat yang membuat gue semakin dekat dengam mimpi gue, di tempat yang bukan hanya membiarkan gue untuk sekedar bertegur sapa dengan passion gue, lebih dari itu. Saat itu gue berpikir.... Selama ini gue selalu diberikan jalan, sesulit apapun, selalu ada jalan menuju tujuan itu.

Lalu sekarang apalagi masalahnya?

Disaat semuanya terasa sempurna, dan berada di jalan yang tepat....


gue tetiba menemukan hal-hal yang ternyata merupakan masalah terberat buat gue. Sekarang gue tahu bahwa dalam proses melakukan step-by-step-nya, gue bukan lagi sekedar belajar bangun ketika jatuh atau terus berusaha untuk memetik hasilnya. Semakin gue terpapar lebih jelas seperti apa hal-hal yang perlu gue lalui, semakin gue mulai merasa bahwa kini value sangatlah menjadi pertimbangan. Gue mulai kesulitan ketika di berikan fakta bahwa dalam mencapai sesuatu ada banyak ketidaksamaan dalam value yang perlu dihadapi untuk bisa mencapainya. Ternyata itu lebih menyita pikiran dari yang pernah gue bayangkan. Gue sadar untuk bisa menjadi apa yang kita inginkan, diperlukan ambisi dan kerja keras. Itu adalah kalimat paling klasik yang mungkin terbiasa kita dengar ketika ngomongin soal cita-cita. gue juga sampai bosen dengernya. Tapi untuk pertama kalinya gue mulai memikirkan maksud dari kalimat itu. 

ambisi? mendengar kata ambisi gue terus-terusan bertanya, apa itu ambisi?

kesuksesan? kesuksesan seperti apa yang gue mau?

kerja keras? wait, kerja keras yang dimaksud itu yang seperti apa ? 

ketika gue mulai menemukan definisi yang tepat di kepala gue, gue akhirnya tau bahwa dunia ini punya definisi yang berbeda-beda tentang apa itu ambisi, kesuksesan dan kerja keras. Gue selalu merasa bahwa semuanya hitam putih, tapi ternyata..... dunia ini punya warna abu-abu yang tidak pernah gue tahu. Sejauh ini, warna abu-abu itu adalah bagian tersulit yang bisa gue terima. 

" naif sekali kamu nak "

Mungkin dunia ini berusaha menyadarkan gue, bahwa untuk bisa bertahan hidup gue perlu menjadi abu-abu.

" dunia ini keras, nak "

Beberapa kali gue tenggelam, dalam keinginan untuk menjadi putih.
Beberapa kali gue tenggelam, untuk menjadi hitam.
Beberapa kali bahkan gue tenggelam, untuk menjadi abu-abu....

Sampai gue pada tahap benar-benar memahami, ini hanyalah soal perbedaan definisi. So...

" i quit "