Selasa, 22 Mei 2018

- REAL -



“Real isn't how you are made,' said the Skin Horse. 'It's a thing that happens to you. When a child loves you for a long, long time, not just to play with, but REALLY loves you, then you become Real.'

'Does it hurt?' asked the Rabbit. 

'Sometimes,' said the Skin Horse, for he was always truthful. 'When you are Real you don't mind being hurt.' 

'Does it happen all at once, like being wound up,' he asked, 'or bit by bit?' 

'It doesn't happen all at once,' said the Skin Horse. 'You become. It takes a long time. That's why it doesn't happen often to people who break easily, or have sharp edges, or who have to be carefully kept. Generally, by the time you are Real, most of your hair has been loved off, and your eyes drop out and you get loose in the joints and very shabby. But these things don't matter at all, because once you are Real you can't be ugly, except to people who don't understand.” 


― Margery Williams BiancoThe Velveteen Rabbit

Senin, 14 Mei 2018




Ketika menerka-nerka menjadi usaha mereka,
sesungguhnya rasa tidak peduli selalu menjadi caraku 
Suatu saat mereka akan datang, katanya berbekal pengetahuan
Bermodalkan teka-teki yang pikirnya telah terpecahkan
Jika sesungguhnya cara mereka berpikir bisa dimanipulasi oleh angin, 


Kenapa mereka terus percaya diri untuk terus mencari ? 





May


Kupikir kita semua selalu punya,
ingatan yang tak akan pernah kita minta untuk pergi.
namun tak juga kita harapkan untuk kembali.
Ingatan itu masih ada, terkadang hadir untuk bercerita
Hadir untuk mengingatkan, kemana kehidupan seharusnya bermuara





Minggu, 22 April 2018

twist



"...Kita tak pernah tahu, soal arti kata kebetulan. 
Tapi disaat kamu tersenyum dan menjabat tanganku, 
aku tahu dan dan kamupun tahu, saat itu… mata kita akhirnya bertemu...."


- Twist

Kedua







"...Hari itu, minggu kedua di bulan Januari. Hari dimana kamu datang dengan kemeja lengan panjang abu-abu yang kamu lipat hingga siku dan hari dimana semua rencanaku masih menjadi rencanaku. Mungkin hari itu juga masih menjadi rencanamu, tapi apakah pertemuan kita sesungguhnya ada dalam rencana? ataukah hanya sebuah cerita di luar skenario yang bisa kita sederhanakan dalam sebuah kata kebetulan. Hari itu, kamu tak menatapku. Karena hari itu, kamu dan aku sama-sama tahu bahwa ini bukanlah drama romantis dimana kamu bisa menemukan aku dalam keramaian, hanya aku dalam keramaian. Entah karena aku bukanlah pemeran utama atau tuhan sedang bercerita mengenai sebuah kehidupan yang nyata. Tapi jika aku bukan drama romantismu, lalu bagaimana dengan kamu? yang begitu mudahnya kutemukan dalam keramaian, yang begitu mudah kukenali dalam kerumunan. Kehadiranmu mengundang tatap, lebih dari yang seharusnya kuberikan...." 

- Kedua

Ketiga




"...Aku masih mengingat matamu, matamu yang berkata bahwa kamu tidak peduli dengan keramaian itu. Kamu tampak percaya, bahwa dengan kesendirianmu, kamu baik-baik saja. Aku tahu kamu datang dengan tujuan, tapi entah apa itu tujuanmu, saat itu aku terlalu takut untuk menerka-nerka. Yang aku tahu, aku sedikit kecewa, kupikir kamu lebih manis jika tampil dengan kehangatan. Tapi kamu duduk dalam diam memilih untuk menjadi dingin diantara mereka,  mereka yang tak lagi aku sadari kehadirannya..."

- Ketiga


Keempat





"...Aku kemudian bertanya, apa yang membuatmu tiba-tiba menjadi istimewa diantara mereka. Diammu mengundang tanya, dinginmu mengundang ragu, dan aku selalu kembali ke matamu hari itu. Kamu membuatku tahu, bahwa ada batasan yang perlu aku buat antara inginku dengan keharusanku. Kamu membuatku tahu, bahwa ada ketakutan berdiri diantara sekian tanda tanya yang hadir untukmu. Hari itu, pikirku mengingatkan aku…bahwa ingatkah kamu akan rencanamu?..."


- Keempat