Minggu, 22 Januari 2017

I QUIT

Selamat malam! hohoho... story time.

Entah kenapa gue belakangan sangat menikmati menulis dan isinya sebenernya literally random with no interesting picture didalamnya. Blog gue sangat membosankan.... tapi ya sebenarnya dari awal gue nggak pernah expect tulisan gue akan dibaca orang. Pada dasarnya gue memang sangat ekstrovert, dan ketika gue pengen cerita sesuatu, itu akan sangat susah banget ditahan. Ditambah lag, gue tinggal sendirian which is keinginan untuk bercerita gue tidak selalu difasilitasi oleh pendengar. Thats why gue selalu chat banyak orang di jam yang sama untuk menceritakan hal yang sama. Kebayang nggak sih? gue juga sangat terbiasa membicarakannya secara detail. Gue cukup heran dengan kelakuan gue, i mean... gue bisa membicarakan hal yang sangat personal bahkan sama customer yang nggak gue kenal sebelumnya. Tapi entah kenapa, ketika gue share sesuatu yang gue rasakan, itu bikin gue merasa lega aja gitu. 
Thats why gue mulai menulis blog lagi. 

Tapi ternyata, saat gue post blog untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun punya blog ini, gue dapet beberapa private message yang menceritakan bahwa mereka baca blog gue. Gue agak bingung juga orang-orang mau meluangkan waktunya buat baca iniloh ? paragraf-paragraf panjang isinya curhatan orang yang bahkan mereka mungkin gak kenal dekat. But still, i wanna say thankyou and sooo happy with that. 

Gue akan kembali membicarakan soal passion, setelah sekian lama passion selalu menjadi topik pembicaraan yang mampu membuat gue terjaga sampai pagi. Gue cukup bersyukur gue termasuk orang yang dari awal sudah sangat paham passion-nya dimana. Karena gue masih bertemu banyak orang yang diusia segini masih belum tahu tujuannya apa, keinginannya apa dan maunya gimana. Dari situ gue juga sadar bahwa betapa belum menemukan passion di usia segini juga cukup bikin frustasi, mereka selalu merasa waktunya terbuang dan gak pernah merasa benar-benar puas atas apa yang dia lakukan. Saat gue SMA, karena gue sudah mengetahui passion gue dimana, gue merasa bahwa gue hanya perlu melakukan step by step seperti yang orang lain lakukan untuk bisa mendapatkan apa yang gue inginkan. Mimpi-mimpi besar gue. Gue berusaha mengikuti jalan itu, bahkan menyusun peta gue sendiri.

Saat gue kuliah, gue disadarkan bahwa segala sesuata tidak selalu berjalan seperti peta yang sudah gue buat. Saat itu gue jatuh bangun dalan artian sebenarnya. Gue akhirnya tahu jatuh bangun yang sebenarnya, bukan hanya jatuh bangun superti di lagu dangdut. Saat itu, gue banyak belajar, gue juga menemukan diri gue yang lain.... gue mulai mengenal diri gue sendiri lebih yang gue pernah pahami. 
Gue sadar bahwa gue bukan hanya sekedar melakukan step by step dari kehidupan gue. Gue bukan hanya sekedar berusaha kemudian memetik hasil, tapi gue akhirnya tahu bahwa gue perlu banyak jatuh untuk kemudian belajar bahwa bangun itu sulit tapi bisa dilakukan.

Saat kuliah inilah, akhirnya gue sadar... sejauh-jauhnya gue melangkah, gue tetap menuju satu arah... menuju tujuan gue, menuju mimpi gue, passion gue. Sejauh-jauhnya gue melangkah, gue selalu menatap passion gue, dari kejauhan.
Gue hanya perlu menempuh perjalanan lebih jauh dari seharusnya. 

Saat kuliah gue selesai, Tanpa sempat gue menyadari, gue tiba-tiba kerja. Bahkan bekerja di tempat yang membuat gue semakin dekat dengam mimpi gue, di tempat yang bukan hanya membiarkan gue untuk sekedar bertegur sapa dengan passion gue, lebih dari itu. Saat itu gue berpikir.... Selama ini gue selalu diberikan jalan, sesulit apapun, selalu ada jalan menuju tujuan itu.

Lalu sekarang apalagi masalahnya?

Disaat semuanya terasa sempurna, dan berada di jalan yang tepat....


gue tetiba menemukan hal-hal yang ternyata merupakan masalah terberat buat gue. Sekarang gue tahu bahwa dalam proses melakukan step-by-step-nya, gue bukan lagi sekedar belajar bangun ketika jatuh atau terus berusaha untuk memetik hasilnya. Semakin gue terpapar lebih jelas seperti apa hal-hal yang perlu gue lalui, semakin gue mulai merasa bahwa kini value sangatlah menjadi pertimbangan. Gue mulai kesulitan ketika di berikan fakta bahwa dalam mencapai sesuatu ada banyak ketidaksamaan dalam value yang perlu dihadapi untuk bisa mencapainya. Ternyata itu lebih menyita pikiran dari yang pernah gue bayangkan. Gue sadar untuk bisa menjadi apa yang kita inginkan, diperlukan ambisi dan kerja keras. Itu adalah kalimat paling klasik yang mungkin terbiasa kita dengar ketika ngomongin soal cita-cita. gue juga sampai bosen dengernya. Tapi untuk pertama kalinya gue mulai memikirkan maksud dari kalimat itu. 

ambisi? mendengar kata ambisi gue terus-terusan bertanya, apa itu ambisi?

kesuksesan? kesuksesan seperti apa yang gue mau?

kerja keras? wait, kerja keras yang dimaksud itu yang seperti apa ? 

ketika gue mulai menemukan definisi yang tepat di kepala gue, gue akhirnya tau bahwa dunia ini punya definisi yang berbeda-beda tentang apa itu ambisi, kesuksesan dan kerja keras. Gue selalu merasa bahwa semuanya hitam putih, tapi ternyata..... dunia ini punya warna abu-abu yang tidak pernah gue tahu. Sejauh ini, warna abu-abu itu adalah bagian tersulit yang bisa gue terima. 

" naif sekali kamu nak "

Mungkin dunia ini berusaha menyadarkan gue, bahwa untuk bisa bertahan hidup gue perlu menjadi abu-abu.

" dunia ini keras, nak "

Beberapa kali gue tenggelam, dalam keinginan untuk menjadi putih.
Beberapa kali gue tenggelam, untuk menjadi hitam.
Beberapa kali bahkan gue tenggelam, untuk menjadi abu-abu....

Sampai gue pada tahap benar-benar memahami, ini hanyalah soal perbedaan definisi. So...

" i quit "